Laman

Minggu, 12 Mei 2013

IMPLEMENTASI KURIKULUM



IMPLEMENTASI KURIKULUM

A. Pendahuluan
Sebuah kurikulum sekolah akan lebih berharga/berbeda jika kurikulum tersebut dapat memberi hasil pada siswa. Kurikulum yang dirancang dengan baik, haruslah dilaksanakan di seluruh sekolah, dan berdampak pada siswa untuk mencapai tujuan pendidikan. Persoalannya adalah pelaksanaan/implementasi kurikulum tidak mempertimbangkan tahapan penting. Selain itu implementasi kurikulum juga banyak diisi dengan kegiatan kurikulum yang tidak memiliki pandangan makro baik dari segi proses maupun inovasi yang memerlukan pengawasan. Keberhasilan implementasi/pelaksanaan kurikulum, tidak saja tergantung pada perencanaan, tapi juga pada gambaran awal tahapan proses pengembangan untuk implementasi kurikulum.


B. Sifat Alami Implementasi Kurikulum
            Menurut Lislie Bishop, implementasi kurikulum membutuhkan restrukturisasi dan penggantian. Implementasi/pelaksanaan kurikulum membutuhkan reorganisasi dan penyesuaian kebiasaan individu, cara berperilaku, program, tempat belajar, jadwal dan kurikulum yang ada. Seorang pemimpin kurikulum dapat memicu perubahan perilaku stafnya, tergantung pada kualitas perencanaan awal, dan ketepatan langkah-langkah pengembangan kurikulum yang telah dilakukan. Seiring dengan perkembangan waktu, implementasi kurikulum telah menjadi perhatian utama pendidikan, selain itu telah banyak biaya yang dikeluarkan untuk pengembangan proyek kurikulum namun masih banyak yang tidak berhasil.
            Pada saat mengevaluasi pelaksanaan kurikulum, kita perlu mempertimbangkan pendapat para pendidik. Banyak pendidik yang beranggapan bahwa implementasi kurikulum hanyalah sebuah langkah lain dari perencanaan kurikulum, dan guru bisa dengan lebih mudah melanjutkan tahap perencanaan tersebut menjadi tahap pelaksanaan. Setelah meninjau beberapa proyek inovatif Fullan dan Pomfret mengungkapkan bahwa dalam pengamatan mereka, implementasi inovasi yang efektif membutuhkan waktu, interaksi dan kontak pribadi, penataran dan lain-lain. Mereka juga menyebutkan bahwa guru harus mengetahui dengan jelas tujuan, sifat dan manfaat dari sebuah inovasi/perubahan kurikulum.
            Implementasi/pelaksanaan kurikulum di seluruh kabupaten dan sekolah melibatkan pengajaran individu tentang nilai/komponen sebuah program baru. Beberapa tahun lalu ilmuwan sosial mendefinisikan implementasi kurikulum masih digunakan:
  1. Penerimaan
  2. Seiring waktu
  3. Dari beberapa item, ide atau praktek
  4. Adopsi oleh individu, kelompok, atau unit lain yang terhubung
  5. Untuk saluran komunikasi tertentu
  6. Untuk struktur sosial
  7. Suatu sistem nilai/budaya.
Keith Leithwood menganggap pelaksanaan kurikulum merupakan proses pengurangan perbedaan antara praktek yang ada dengan yang disarankan oleh inovator/agen perubahan. Pelaksanaan kurikulum mempengaruhi perubahan perilaku secara bertahap, sehingga orang membutuhkan waktu untuk menyetujui suatu perubahan.
Yang harus kita ingat adalah, Implementasi/pelaksanaan kurikulum membutuhkan waktu, karena pelaksanaan kurikulum melibatkan upaya mengubah pengetahuan, sikap dan tindakan individu. Implementasi adalah proses interaksi antara orang-orang yang menciptakan program dan yang menyampaikannya.

1.  Hubungan Pelaksanaan Untuk Perencanaan
Keberhasilan pelaksanaan kuriukulum merupakan hasil dari perencanaan yang cermat. Menurut Edgar Morphet et al, agar proses perencanaan dan pelaksanaan menjadi efektif dan bermakna, maka hubungan keduanya haruslah dipertimbangkan dengan cermat. Perencanaan yang efektif harus berhubungan dengan perubahan yang diinginkan dan mengidentifikasi apa yang dapat dilaksanakan.
   Implementasi kurikulum membutuhkan perencanaan, perencanaan berfokus pada 3 faktor yaitu orang, program dan organisasi/lembaga. Ketiga faktor tersebut harus saling mendukung satu dengan yang lainnya. Ada orang berpendapat hanya dengan satu faktor dapat memfasilitasi pelaksanaan kurikulum, namun idealnya adalah ketiga faktor ini harus dipertimbangkan dalam pelaksanaan kurikulum.
Seorang pemimpin kurikulum harus benar-benar bekerja dengan mempertimbangkan 3 faktor, yaitu orang, program dan organisasi. Ketiga faktor ini harus saling terintegrasi agar dapat mewujudkan implementasi kurikulum yang baik. Salah satu faktor kegagalan proyek kurikulum  di tahun 1960-an adalah karena gagal untuk mengambil “akar”nya bahwa perubah kurikulum(inovator) hanya berpusat pada perubahan sebuah program, tapi tidak memperhatikan kebutuhan guru dan organisasi Sekolah Amerika.

2. Incrementalisme
            Setiap orang ingin berubah, tetapi mereka juga takut dengan perubahan, terutama perubahan yang datang dengan cepat dan mereka tidak memiliki kontrol/pengaruh atas perubahan tersebut. Dunia guru tidak memungkinkan menerima perubahan yang cukup banyak. Both Fullan dan Goodglad juga mengatakan bahwa rutinitas sehari-hari guru adalah menyajikan pelajaran, sehingga guru hanya memiliki sedikit kesempatan untuk berinteraksi dengan rekannya. Selain itu Seymour Sarason juga mengomentari bahwa isolasi/pengasingan guru dalam sekolah, memiliki dampak negatif terhadap perubahan. Menurutnya sekolah membuat guru merasa profesionaally, guru bertanggung jawab sendiri, dan mereka memecahkan persoalan sendiri, sehingga guru melihat perubahan dalam program sebagai kegiatan individu.
 Keadaan ini memberi efek pada psikologis guru, guru merasa tidak menyukai administrator dan agen perubahan yang dianggap tidak peduli dengan penderitaan guru. Dan Lortie menyatakan bahwa pada kenyataannya banyak faktor yang mempengaruhi guru menerima suatu perubahan :
Guru memiliki ketahanan untuk berubah, karena mereka percaya bahwa lingkungan kerja mereka tidak pernah mengizinkan untuk menunjukkan apa yang benar-benar bisa mereka lakukan. Banyak perubahan yang ternyata tidak mengatasi berbagai permasalahan. Ada beberapa prinsip yang memandu perubahan perilaku orang dewasa. Prinsip ini menggambarkan pelaksanaan kurikulum memfasilitasi keterlibatan aktif para guru untuk adanya pengalaman belajar, mendorong keterbukaan dan kepercayaan, serta memberikan umpan balik, sehingga peserta menyadari kontribusi dan bakat mereka dihargai.
Guru memerlukan waktu untuk mencoba program baru yang akan dilaksanakan, untuk merefleksikan tujuan-tujuan baru, konten dan pengalaman belajar serta mencoba tugas baru.  Selain itu guru juga butuh waktu untuk menentukan strategi untuk program baru dan diskusi dengan rekan-rekan sejawat.
   Idealnya proses pelaksanaan kurikulum memberikan waktu pada guru untuk mencoba kurikulum baru tersebut. Loucks dan Lieberman mengemukakan bahwa guru dapat melalui  tingkatan penggunaan kurikulum baru, yaitu :
1.      Guru perlu waktu menyesuaikan diri dengan bahan dan tindakan yang dibutuhkan untuk kurikulum baru.
2.      Seiring dengan waktu, guru menerima kurikulum baru, dan berinisiatif memodifikasi kurikulum, yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa dan pandangan filsafat mereka sendiri.
Hal ini berarti agar implementasi kurikulum berjalan sukses, maka dibutuhkan waktu bagi guru untuk “membeli” kurikulum baru tersebut dan untuk menjadi terampil dalam menyampaikan program baru tersebut.

3. Komunikasi
            Kemunculan sebuah program baru yang sedang dirancang, memerlukan adanya saluran komunikasi terbuka, agar program tersebut tidak muncul secara mengejutkan. Sebuah implementasi kurikulum akan berhasil dengan adanya diskusi antara guru, kepala sekolah dan pekerja kurikulum lainnya. Diskusi ini akan mempermudah memperkenalkan sebuah program baru, dan mempermudah proses pengiriman pesan/informasi.
            Seorang pemimpin perlu mengkomunikasikan asumsi yang mendasari sebuah  program baru, nilai-nilai serta sudut pandang  program baru tersebut pada stafnya. Jika program baru adalah sebuah perubahan besar dari program yang ada sebelumnya, maka pemimpin kurikulum dapat mengkomunikasikannnya melalui pertemuan, lokakarya, demonstrasi dan lain-lain.
Karena itu kunci keberhasilan sebuah komunikasi adalah Individunya. Philip Phenix menyatakan hambatan nyata untuk komunikasi bukan teknis tapi manusia. Dengan demikian, pemimpin kurikulum harus menciptakan iklim yang kondusif untuk terjadinya komunikasi efektif antara staff pendidikan dengan masayarakat (Perorangan dan komunikasi massa). Semua orang dipersilahkan untuk menyampaikan pandangan mereka dan mereka bertanggungjawab untuk berpartisipasi menyampaikan pesan pada pelaksanaan kegiatan kurikulum.
4. Kerjasama
Agar perubahan kurikulum berhasil dan dilembagakan, maka harus ada  kerjasama antar semua orang yang terlibat dengan pelaksanaan program. Sebuah tinjauan penelitian mengungkapkan bahwa keberhasilan pelaksanaan kurikulum akan meningkat, jika guru berpartisipasi aktif dalam pengembangan dan pelaksanaan kurikulum.
            Charles Silberman mengungkapkan bahwa banyak reformasi tahun 1950-an yang menyatakan bahwa guru-guru keluar dari proses pendidikan. Para inovator menginginkan guru membuat handout (ringkasan) materi. Guru merasa program hanyalah sebuah perubahan/pembaharuan yang tidak bisa mereka kendalikan, sehingga program ini tidak bisa sepenuhnya dapat dilaksanakan. Suatu perubahan akan efektif jika guru berkomitmen untuk perubahan tersebut dan mengganggap perubahan itu dapat mengatasi kebutuhan dan masalah yang mereka hadapi.
            Dalam menciptakan suatu perubahan pendidik perlu memperhatikan kebutuhan guru, komitmen dan keterampilan guru, serta bagaimana melibatkan guru dalam pelaksanaannya, karena guru sebenarnya ingin terlibat dalam perubahan tersebut dan ikut terlibat dalam keputusan, yang mencerminkan filosofi mereka dan orientasi kurikulum untuk pendidikan.
Dari sisi lain ada yang juga ingin melibatkan siswa dalam proses pengembangan dan pelaksanaan kurikulum, dengan melibatkan ide-ide siswa serta menguji dan memodifikasi program baru. Selain itu ada juga kelompok minoritas yang menginginkan keterlibatan masyarakat dalam pengembangan dan pelaksanaan kurikulum, untuk memastikan pandangan mereka terwakili dan anak-anak mereka tidak didiskriminasi dalam pelaksanaan program baru.

5. Dukungan
            Dalam pelaksanaan kurikulum juga dibutuhkan dukungan biaya/keuangan. Perancang kurikulum perlu memberikan dukungan untuk program baru/modifikasi program yang mereka anjurkan, agar pelaksanaan program segera dilaksanakan. Para pendidik butuh waktu untuk pelatihan (membahas kebutuhan guru), dan waktu untuk menyesuaikan diri dengan program baru. Program pelatihan yang efektif harus fleksibel untuk merespon perubahan kebutuhan guru/staf. Program pelatihan ini juga sebagai wadah untuk menanggapi keberatan/kekhawatiran guru/staf serta menilai ketercapaian tujuan.
            Pengembangan dan pelaksanaan program baru membutuhkan dukungan keuangan. Artinya tanpa dukungan keuangan, pengiriman/penyampaian program baru ke seluruh kabupaten akan gagal. Jika suatu sekolah membuat program baru menggunakan dana pemerintah, maka mereka harus menemukan cara untuk mendukung program tersebut, yang pernah dilaksanakan dengan dana/anggaran rutin sekolah. Selain itu uang juga dibutuhkan untuk melengkapi bahan dan peralatan agar melembagakan sebuah program baru. Untuk itu diperlukan kerjasama antar semua pihak di sekolah, dan kepala sekolah menjadi kunci sukses sebuah inovasi dan pelaksanaan kurikulum. Selain itu keberhasilan pelaksaan kurikulum juga membutuhkan kerjasama diantara sesama rekan kerja. Dengan kerjasama ini guru bisa saling berbagi ide, bersama-sama memecahkan masalah dan membuat bahan ajar secara kolaboratif (berkelompok).

C. Implementasi Kurikulum Sebagai Sebuah Proses Perubahan (inovasi)
            Implementasi kurikulum merupakan bagian penting dari pengembangan kurikulum, ini berarti kegiatan kurikulum adalah kegiatan perubahan. Setiap orang yang melakukan perubahan haruslah memahami perubahan itu sendiri, konsep dan jenis perubahan, dan memungkinkan individu untuk menentukan sumber perubahan. Perubahan dapat terjadi dalam 2 cara , yaitu:
  1. Perubahan yang cepat
  2. Perubahan yang lambat.
Menurut penelitian, perubahan kurikulum dapat berhasil dilaksanakan (baik secara cepat dan lambat),  ada 5 pedoman untuk membantu kita menghindari kesalahan dimasa lalu :
1.    Inovasi/perubahan  yang dirancang untuk meningkatkan prestasi siswa
2.    inovasi/perubahan yang sukses memerlukan perubahan dalam struktur sekolah tradisional.
3.    Inovasi/perubahan harus dikelola dan layak untuk semua guru (rat-rata guru).
4.    keberhasilan pelaksanaan sebagai upaya perubahan harus organik, bukan birokrasi.
5.    Hindari sindrom “ melakukan sesuatu, melakukan apa-apa”.
Kelima pedoman ini secara sitematis harus saling terkait. Pengguna kurikulum akan mendapatkan keuntungan dengan mempertimbangkan penerapan mereka dalam konteks tertentu, pada sekolah sendiri, atau sekolah kabupaten.



1. Sebuah Teori perubahan
            Perubahan adalah hasil dari pengetahuan baru. Lovell dan Wiles menyajikan suatu model perubahan yang menggabungkan konsep sosial dan psikologis. Model ini menunjukkan bahwa guru dan siswa merupakan sistem, dan mereka yakin mereka dapat mencapai tujuan dengan lebih efektif sebagai sistem daripada sebagai individu. Model ini dapat digunakan untuk berbagai proses perubahan, seperti proses kepemimpinan, komunikasi dan pemecahan masalah. Proses perubahan dipengaruhi oleh sistem eksternal (umpan balik dari lingkungan ) dan kekuatan. Pemimpin kurikulum harus memfasilitasi proses perubahan melalui: 1) kepemimpinan;  2) komunikasi; 3) pelepasan potensi manusia; 4) pemecahan masalah bersama; dan 5) evaluasi.
Lovell dan willes menunjukan bahwa perubahan dapat dicapai melalui proses yang berkesinambungan dari disequilibration dan reequilibration melalui kegiatan pemecahan masalah. Konsekuensi keberhasilan penggunaan pendekatan ini adalah dengan menciptakan kekuatan eksternal dan internal baru yang menstimulasi perubahan dan perbaikan sistem kurikulum.

2. Perubahan Tipilogi
            Warren Bennis mengidentifikasi beberapa jenis penggunaan perubahan :
  1. Penggunaan terencana, yaitu perubahan dimana orang yang terlibat dalam proses perubahan mempunyai kekuatan dan fungsi yang sama dalam mode yang ditentukan. Perubahan yang terencana adalah ideal.
  2. Perubahan yang ditandai dengan paksaan oleh satu kelompok menentukan tujuan. Kelompok mempunyai kontrol yang besar dan menjaga keseimbangan yang tidak setara.
  3. Perubahan Interaksi, yang ditandai dengan penetapan tujuan bersama, dan antara setiap kelompok memiliki kekuasaan distribusi yang sama.

Kebalikan dari perubahan terencana adalah perubahan acak, yaitu perubahan yang terjadi tanpa berpikir jelas, dan tidak ada penetapan tujuan pada peserta. Perubahan alam/acak yang terjadi di sekolah, dimana kurikulum disesuaikan/dimodifikasi dan diterapkan bukan sebagai hasil analisis yang cermat, melainkan sebagai respon terhadap kejadian tak terduga, misalnya adanya tuntutan kelompok tertentu /badan legislatif untuk melaksanakan suatu program tertentu.
Menurut Robert Chin ada tiga jenis strategi perubahan yang juga dapat dianggap sebagai tipilogi perubahan:
1.      Strategi Empiris-rasional, yang menekankan pentingnya mengetahui perlunya perubahan dan memiliki kompetensi untuk menerapkannya.
2.      Strategi Normatif-reedukatif yang didasarkan pada rasionalitas dan kecerdasan manusia.
3.      Strategi Kekuatan, mengharuskan individu sesuai dengan keinginan mereka yang berada dalam posisi unggul mereka. Memaksa individu itu mematuhi berbagai keinginan dari mereka yang lebih pandai.

3. Mengubah Menurut Kompleksitas
Dalam proses perubahan ada 5 jenis perubahan yang menggunakan kompleksitas sebagai penyelenggara:
  1. Pergantian, dimana perubahan menjelaskan penggantian satu elemen dengan elemen lainnya.
  2. Perubahan, dimana perubahan hadir ketika seseorang memperkenalkan ke bahan yang ada, item dan konten baru, bahan atau prosedur yang berkemungkinan untuk lebih mudah diadopsi.
  3. Gangguan, yakni perubahan awalnya bisa mengganggu program, tapi kemudian pemimpin kurikulum dengan sengaja menyesuaikannnya dengan program yang sedang berlangsung dalam jangka waktu yang singkat.
  4. Restrukturisasi, yakni perubahan yang menyebabkan modifikasi dari sistem itu sendiri.
  5. Perubahan orientasi nilai, yakni pergeseran filosofi dasar peserta atau orientasi kurikulum.

4. Perlawanan Perubahan
      Seorang pemimpin kurikulum menerima bahwa manusia adalah kunci keberhasilan kegiatan  dan pelaksanaan kurikulum. Banyak orang yang suka dengan pengaturan sekolah sebagai birokrasi. Para pendidik berpendapat mereka percaya bahwa ada hal-hal yang tidak perlu dirubah, atau perubahan yang disarankan tidak bijaksana sehingga tidak produktif dalam memenuhi tujuan sekolah. Mereka belum memiliki perencanaan yang memadai, tentang apa yang akan dilihat dari program baru atau menunjukan cara-cara yang membuktikan program baru lebih unggul dari yang sudah ada.
      Seringkali guru tidak sepenuhnya bersedia mengikuti perkembangan ilmiah, karena mereka tidak sekedar mengikuti ledakan pengetahuan yang membuat mereka berkomitmen untuk perubahan kurikulum dan pelaksanaan program baru. Guru melihat perubahan hanya sebagai menambah pekerjaan, menambah beban sehingga tidak memiliki waktu lagi, dan tidak ada tambahan biaya untuk pekerjaan tambahan lain. Banyak guru yang kewalahan dengan perubahan yang diusulkan dan implikasinya.
Guru melihat kurikulum baru mengharuskan mereka untuk mempelajari keterampilan mengajar baru, mengembangkan kompetensi baru dalam pengembangan kurikulum, pengelolaan sumber belajar atau memperoleh keterampilan baru dalam hubungan interpersonal. Kenyataan dalam beberapa kasus, banyak program pendidikan guru yang gagal untuk mengembangkan kompetensi yang diperlukan guru untuk menjadi peserta aktif dalam inovasi.
      Menurut Edgar Friendenberg, orang yang masuk ke pengajaran cenderung konformis dan tidak inovatif. Selain itu pendidik merasa ketidakpastian yang menumbuhkan rasa tidak nyaman, karena banyak pendidik yang sudah nyaman dengan keadaan sekarang dan enggan untuk berubah untuk masa depan yang mereka tidak memahaminya dengan jelas.
      Faktor lain yang menyebabkan orang menolak perubahan adalah kecepatan perubahan. Banyak orang merasa sesuatu yang dilaksanakan saat ini, mungkin nanti akan ditinggalkan saat inovasi lainnya muncul, sehingga membuat usaha mereka sia-sia. Selain itu orang menolak inovasi dan pelaksanaan kurikulum juga karena kurangnya pengetahuan. Banyak orang yang tidak tau tentang inovasi dan tidak memiliki informasi yang lengkap tentang itu.
      Menurut Everett Rogers ada beberapa hambatan untuk mendapatkan orang yang terlibat dalam perubahan. Mereka saat ini masih :
1.      Ada penghargaan/reward kecil untuk menjadi inovator pendidikan.
2.      Pendidikan tidak diatur dengan agen perubahan, seseorang yang memberikan bantuan atau jawaban pertanyaan.
3.      Inovasi pendidikan memiliki keunggulan merata atas ide-ide atau program yang mereka gantikan.
4.      Keadaan inovatif di sekolah sering tidak menjadi tanggung jawab individu, dan beberapa proses dan struktur formal untuk perubahan ada di sekolah.
5.      Metode difusi di sekolah tidak jelas menjelaskan, ada berapa jalan komunikasi dan tindak lanjut untuk program baru.
5. Peningkatan Penerimaan Terhadap Perubahan
Kegiatan  kurikulum melibatkan pemikiran dan tindakan manusia. Implementasi kurikulum juga merupakan proses kelompok yang melibatkan individu yang bekerja bersama-sama. Pemimpin Kurikulum juga dapat meningkatkan kemauan pendidik untuk berubah dengan "menghubungkan" kebutuhan dan harapan individu dengan orang-orang dalam organisasi. Setiap orang memiliki kebutuhan dan harapan, ia mengharapkan untuk memenuhinya dalam organisasi sekolah tertentu. Getzels dan Guba telah menciptakan model yang menggambarkan hubungan utama antara kepribadian individu dan kebutuhan serta peran lembaga yang diharapkan. Ada beberapa pedoman yang dapat membantu individu meningkatkan penerimaan mereka untuk inovasi kurikulum:
  1. Aktivitas/kegiatan kurikulum haruslah bekerjasama. Rasa kepemilikan dicapai dengan melibatkan orang-orang secara langsung dan tidak langsung dengan aspek-aspek utama pengembangan dan pelaksanaan kurikulum. Ketika orang berpartisipasi dalam perencanaan dan pelaksanaan program, maka mereka akan memperoleh pemahaman dan komitmen terhadap tujuan dan  alasan pokok yang mendasari filsafat.
  2. Beberapa orang menyukai perubahan, dan beberapa orang tidak menyukai perubahan. Perlawanan terhadap ide baru ini sering dialami. Pemimpin Kurikulum harus mengantisipasi, dan menyiapkan prosedur untuk menghadapi ini.
  3. Inovasi adalah subjek perubahan. Tidak ada yang dilihat sebagai sesuatu yang tetap/permanen. Kurikulum baru disajikan sebagai respon terhadap waktu dan konteks tertentu. Perubahan merupakan sesuatu yang konstan dan orang-orang perlu menyadari bahwa semua program akan dilihat kembali menjadi konstan jika diteruskan.
  4. Tepat waktu adalah kunci untuk orang meningkatan penerimaan untuk inovasi. Jika komunitas sekolah ini menuntut bahwa sebuah program baru akan dibuat untuk menanggapi kebutuhan Nasional, maka sebuah program baru ditujukan untuk keberhasilan penerimaan kebutuhan. Namun, jika orang merasa puas dengan program saat ini dan ada sedikit permintaan untuk perubahan dari staf atau komunitas lain, kemudian perubahan kurikulum tidak harus dicobakan. Dan juga, jika staf telah lengkap merevisi atau menciptakan sebuah program yang besar, hal ini kemungkinan besar tidak ide yang baik untuk melibatkan orang yang sama dalam upaya pengembangan kurikulum utama lainnya
D. Model Implementasi Kurikulum
Dengan mempertimbangkan keseluruhan proses kegiatan kurikulum akan dapat membantu pendidik untuk memilih sebagian pendekatan untuk pelaksanaan kurikulum. Pemilihan Model Implementasi kurikulum sering tergantung pada pilihan filosofis. Ben Harris menjelaskan bahwa strategi yang ditawarkan untuk mengembangkan pendidikan tidak mudah untuk diidentifikasi. Ben Harris mengamati bahwa usul umum untuk strategi perubahan meliputi: 1) menjelaskan bentuk otoritas; 2) menyertakan peserta dalam penentuan tujuan, pemilihan staf, dan evaluasi; 3) penetapan peran dan tanggung-jawab guru; 4) pelatihan personil dalam strategi perubahan dan teknik resolusi konflik; dan 5) melengkapi  sebagian dampak dengan   melibatkan dukungan.
1.      Mengatasi Penolakan Terhadap Perubahan Model
Mengatasi penolakan terhadap perubahan model (ORC) model didasarkan pada asumsi menurut Neal Gross, bahwa keberhasilan atau kegagalan dari upaya perubahan organisasi yang direncanakan, pada dasarnya adalah sebuah fungsi dari kemampuan para pemimpin untuk mengatasi penolakan staf terhadap perubahan yang ada sebelum, atau pada saat pengenalan inovasi. Kebanyakan orang dalam organisasi prihatin tentang perubahan karena mereka akan bekerja lebih keras tapi tidak/kurang dibayar. Manajer bahkan menolak perubahan karena mereka takut posisi mereka akan menjadi lemah atau mereka akan lebih jauh dari kekuasaan. Manager harus menunjukkan kepada orang bahwa nilai-nilai, asumsi, dan keyakinan mereka termasuk dalam prograrn baru yang diusulkan. Manajer harus ingat prinsip utama untuk menangani orang dalam suatu sistem yaitu kita harus membujuk dan memotivasi bawahan bukan memerintah mereka, sehingga mereka benar-benar ingin memiliki cara (perubahan) baru tersebut.
Salah satu strategi untuk mengatasi penolakan terhadap perubahan adalah perimbangan kekuasaan antara manajemen dan anggota organisasi, administrator sekolah dan guru.              Para pemimpin inovasi menerima bahwa bawahan mereka awalnya akan cendrung negatif terhadap inovasi dan menolak inovasi tersebut. Penolakan ini dapat dihindari jika anggota staf terlibat dalam pembahasan menciptakan program dan dalam musyawarah untuk mengembangkannya. Pemimpin Kurikulum pendidikan, sadar akan fakta ini, mereka membiarkan bawahannya untuk berpartisipasi dalam keputusan-keputusan tentang program perubahan.
Pemimpin kurikulum menggunakan ORC Model menyadari bahwa mereka harus  mengidentifikasi dan menangani masalah staf. Hall dan Loucks telah mencatat bahwa kekhawatiran dapat dikelompokkan ke dalam empat tahapan perkembangan yang luas :
Tahap 1   :       Kekhawatiran yang tidak terkait. Pada tingkat ini guru tidak memahami   hubungan antara diri dan perubahan yang disarankan. Misalnya, jika program ilmu baru sedang diciptakan di sebuah sekolah, guru akan mengetahui upaya, tetapi tidak akan mempertimbangkan bahwa dia akan dipengaruhi oleh keterkaitan dengan upaya.
Tahap 2 : Keprihatinan pribadi. pada tahap ini, individu bereaksi terhadap inovasi dalam kaitannya dengan situasi pribadi. berkaitan dengan bagaimana mereka membandingkan program baru dengan program yang sedang berjalan, khususnya untuk mengetahui apa yang dia lakukan.
Tahap 3 :   Keprihatinan yang berkaitan dengan tugas. Keprihatinan yang menonjol pada tingkat ini berhubungan dengan penggunaan inovasi di dalam kelas.
Tahap 4 :  Keprihatinan terkait Dampak. Ketika bereaksi pada tahap ini, seorang guru lebih memperhatikan bagaimana inovasi akan berdampak lain pada seluruh organisasi. Mereka tertarik untuk mengetahui bagaimana porgam baru mempengaruhi siswa, rekan-rekan dan masyarakat.

Ketika bekerja dengan ORC Model pendidik harus berurusan secara langsung dengan keprihatinan pada tahap 2,3 dan 4. Jika mereka mengabaikannya maka tidak akan ada orang yang membeli inovasi, atau akan berurusan dengan cara yang tidak dimaksudkan dalam konsepsi program. Sering masalah tersebut dapat diatasi oleh pemimpin kurikulum yang menjaga semua staf ,informasi inovasi dan mereka yang melibatkan orang-orang yang akan langsung dipengaruhi dalam keputusan-keputusan awal mengenai inovasi.

2. Kursus Hambatan Kepemimpinan Model.
Model lain yang berurusan dengan pelaksanaan adalah kursus hambatan kepemimpinan (LOC) Model. Model ini tumbuh dari karya Neal Gross untuk menentukan keberhasilan atau kegagalan organisasi. Pada dasarnya secara umum LOC Model mengatasi penolakan untuk mengubah model. Perlakukan ini menolak perubahan sebagai masalah dan mengusulkan bahwa data yang harus dikumpulkan untuk menentukan tingkat dan sifat perlawanan. Idenya adalah untuk para pemimpin yang menetralisir hambatan ini. Mereka dapat melakukan ini dengan memastikan lima kondisi/tahap yang ada:
  1. Anggota Organisasi harus memiliki pemahaman yang jelas tentang inovasi yang diusulkan.
  2. lndividu dalam organisasi harus diberikan keterampilan dan kemampuan yang diperlukan untuk melaksanakan proses inovasi
  3. Bahan dan peralatan yang diperlukan untuk inovasi harus dilengkapi
  4. Organisasi sekolah dalam hal ini harus dimodifikasi sehingga cocok dengan inovasi yang disarankan.
  5. Peserta dalam inovasi harus termotivasi untuk menghabiskan waktu diperlukan dan usaha untuk membuat inovasi yang sukses.

Pemimpin Kurikulum bertanggung jawab untuk menjamin bahwa lima kondisi ini hadir selama waktu/masa pelaksanaan percobaan. Wewenang proses manajemen itu sendiri untuk menetapkan kondisi ini. LOC model meluas menjadi ORC model. Perubahan konsep pendidikan ORC model ada dua tahap proses:
1.  Inisiasi,
2. Penggabungan atau dimasukkannya inovasi sebagai bagian dari proses organisasi yang berkelanjutan
LOC model ini mempertimbangkan perubahan pendidikan sebagai tiga tahapan berurutan:
1. Inisiasi
2. Percobaan pelaksanaan
3. Penggabungan
 Dalam model ini  manajemen tidak hanya bertanggung jawab untuk mengatasi perlawanan pada upaya awal perubahan, manajemen juga harus membangun dan memelihara kondisi yang diperlukan agar tugas dapat dicapai selama pelaksanaan percobaan dan juga selama pemeliharaan program didirikan. Dalam tahap kedua model ini, keterampilan dan kemampuan baru guru akan  diperlukan untuk mengimplementasikan program baru. Mereka menyarankan untuk mengembangkan keterampilan mereka yang kurang, dapat dikembangkan melalui kegiatan pelatihan.
Program baru memerlukan bahan-bahan baru, seperti yang ditunjukkan oleh tahap ketiga. Guru ikut menyatakan apa bahan akan diperlukan. Pemimpin akan menjamin dana yang diperlukan untuk menyiapkan  bahan-bahan dan peralatan yang diperlukan untuk mengajar program studi sosial baru. Sebagai bagian dari tahap keempat, ruang dan jadwal akan disesuaikan. Harus adanya modifikasi organisasi sekolah yang disesuaikan dengan inovasi yang disarankan , misalnya untuk Pembelajaran kooperatif, maka kelas pun juga disesuaikan dengan keadaan yang mendukung terjadinya pembelajaran kooperatif tersebut.  
Untuk mengatasi penolakan terhadap perubahan, maka orang perlu mempertimbangkan semua alasan mengapa orang menolak perubahan tersebut. Banyak guru baru, yang menganjurkan program inovatif dan secara umum kemudian sekolah harus mempertimbangkan stabilitas tenaga kerja ketika berusaha untuk menerapkan kurikulum baru.
3. Linkage Model
Linkage model yang dikembangkan oleh Ronald Havelock mengakui bahwa ada inovator di pusat penelitian dan pengembangan, Universitas, dan sistem sekolah. Pendidik, menemukan beberapa upaya inovasi yang tidak pantas untuk memecahkan masalah sekolah. Yang dibutuhkan adalah kecocokan antara masalah sekolah dan inovasi pembentukan hubungan inovasi. Titik awal untuk perubahan pendidikan adalah proses  pemecahan masalah, pengguna harus mengungkap informasi yang relevan dengan masalah diidentifikasi nya.
Interaksi sangat berguna bagi pengguna untuk mendapatkan keefektifan hubungan antara sumberdaya sistem dan sistem pengguna. Sumber sistem harus memiliki gambaran yang jelas dari masalah pengguna jika itu adalah untuk mengambil atau membuat sesuai pengetahuan atau paket pendidikan. Sumber sistem juga harus mengirimkan solusi yang mungkin untuk pengguna. Keberhasilan sumber sistem harus melanjutkan melalui siklus diagnosis, pengambilan, fabrikasi solusi, penyebaran, dan evaluasi untuk menguji produk.
Dalam linkage model proses dasar adalah transfer pengetahuan. Di sekolah yang menggunakan model ini, seluruh tujuan dikembangkan dan menguji coba melalui tahap diagnosa masalah, mencari, perbaikan, dan seterusnya, sehingga pengetahuan dapat ditransfer ke seluruh staf sekolah dengan cara yang akan memungkinkan mereka untuk melihat relevansi inovasi dan merasa nyaman dan terampil dalam implementasinya.


4. Model Pengembangan Organisasi.
Schmuck dan Miles memposisikan banyak pendekatan pengembangan pendidikan dari tahun 1960-an dan l970s tidak berhasil karena para pemimpin beranggapan bahwa mengadopsi adalah sebuah proses rasional. Berbicara pandangan seperti memaksa para pemimpin untuk mengandalkan pada aspek teknis inovasi dan Difusi. Schmuck dan Milles menyarankan pengembangan organisasi atau OD adalah sebagai pendekatan yang lebih baik.
Untuk memahami model perubahan ini, pemimpin perlu menyadari bahwa ada beberapa pandangan organisasi. Beberapa ilmuwan sosial menyimpulkan organisasi sebagai gabungan individu atau kelompok yang datang bersama-sama untuk mencapai tujuan dan sasaran tertentu, dengan menggunakan fungsi berbeda yang terkoordinasi secara rasional dan diarahkan menurut beberapa jadwal. Pandangan ini mengacu pada sebuah struktur birokrasi.
Melihat implementasi dari sikap organisasi, pendidik menyadari bahwa organisasi dapat menciptakan kondisi yang secara signifikan mempengaruhi bagaimana individu memahami inovasi dan cara-cara melaksanakannya. Chris Argyris dalam sebuah diskusi tentang konsep organisasi belajar, mencatat bahwa belajar terjadi ketika sebuah organisasi mencapai kesesuaian antara apa yang direncanakan untuk tindakan dan hasil aktual dari rencana yang diimplementasikan.
Blake dan Mouton telah menguraikan beberapa prinsip-prinsip pengembangan organisasi dengan penerapan pendidikan:
1. Unit perubahan adalah sebuah organisasi yang otonom dan bertanggung jawab untuk dirinya sendiri. Unit OD harus mengandung otoritas penting untuk menetapkan arah baru dalam dirinya.
2. Kepemimpinan harus secara aktif terlibat dalam pengambilan keputusan untuk membawa perubahan yang dibutuhkan.
3.  Seluruh sistem manusia dalam organisasi harus terlibat
4. Mereka bertanggung jawab untuk mengelola perubahan, perlu diberi kesempatan untuk mempelajari konsep-konsep dari perilaku pemimpin.

OD melibatkan pelatihan kelompok, bukan individu dalam komunikasi dan keterampilan pemecahan masalah. Hal ini membutuhkan orang untuk membentuk kelompok dan bertekad agar sistem berfungsi efisien. Ini mendorong anggota untuk berkolaborasi(bekerjasama) dalam kelompok untuk memecahkan masalah mereka sendiri. Pendidik yang menggunakan pendekatan inovasi dari perspektif OD menyadari bahwa departemen utama dan divisi sekolah harus identifikasi, program dan prosedur harus dibuat jelas. Kelompok ini bertanggung jawab untuk mendesain ulang struktur dan prosedur untuk mencapai tujuan. Sekolah harus dilihat sebagai sebuah sistem di mana tindakan dalam satu bagian dapat mempengaruhi bagian lainnya.

5. Rand Agen Perubahan Model
Model ini diciptakan oleh Rand Corporation dalam upaya evaluasi pada tahun 1970-an, ada  empat program federal yang utama:
1. Undang-undang pendidikan sekolah dasar dan menengah, judul III (inovatif proyek)
2. Undang-undang pendidikan dasar dan menengah, judul VII (dwibahasa proyek)
3. Undang-undang pendidikan kejuruan (teladan program)
4. hak untuk membaca Program.

Dari penelitian mereka, Rand menyimpulkan bahwa hambatan utama untuk mengubah tampaknya berada dalam dinamika organisasi sekolah setelah keputusan yang telah dibuat untuk mengadopsi Program baru atau praktek. Rand Model menunjukkan tiga tahap dalam proses perubahan:
1. Inisiasi,
2. Implementasi,
3. Penggabungan.

Setelah pemimpin kurikulum mencapai dukungan dari anggota organisasi aktivitas perubahan  memasuki tahap berikutnya. Pada tahap ini, usulan perubahan atau program dan organisasi lokal sekolah dimodifikasi untuk beradaptasi dengan program atau prosedur. Asumsinya adalah bahwa keberhasilan implentasi adalah fungsi karakteristik usulan perubahan, kemampuan pengajaran dan staf administrasi. sifat masyarakat setempat, dan struktur organisasi sekolah.
Prosedur yang diuraikan dan dikelola untuk memastikan bahwa program yang diimplementasikan disediakan dengan personil yang diperlukan dan dukungan keuangan sehingga terus disampaikan dalam cara yang dimaksudkan. Hasil studi Rand menyoroti fakta bahwa keberhasilan pelaksanaan memerlukan sekelompok profesional dan petugas yang  memperhatikan dinamika organisasi.
E. Peranan Agen Perubahan
Upaya perubahan memerlukan agen perubahan. Agen perubahan mungkin bisa  siswa, guru, administrator, konsultan, dosen, karyawan, orang tua, warga awam, dan pejabat politik yang tertarik dalam pendidikan. Mereka sering dapat memainkan peran yang berbeda pada waktu yang berbeda dalam proses perubahan, tergantung keahliannya. Dan Orang-orang lain yang secara resmi mengasumsikan peran tertentu sebagai konsultan, peneliti, atau sistem ahli.                        
Seseorang harus memulai proses perubahan atau setidaknya bereaksi terhadap permintaan. Hampir semua orang di komunitas pendidikan dapat menjadi inisiator. Inisiator tetap dengan upaya perubahan keseluruhan. Inisiator katalis dan tidak aktif terlibat dalam salah satu tahap kurikulum perubahan. Kesuksesan proyek perubahan selalu pada fase inisiasi dengan beberapa orang (atau kelompok) sebagai pemprakarsa.
1. Guru Sebagai Pemprakarsa.
Guru memainkan peran utama dalam program perbaikan. Guru dapat membantu melaksanakan perubahan karena mereka tahu iklim organisasi sekolah dan mereka mendukung orang-orang yang terlibat dalam perubahan. Kepala sekolah telah menciptakan suasana di mana ada hubungan kerja yang baik antara guru, dan guru bersedia mengambil risiko untuk menciptakan dan memberikan program dinamis, dan memungkinkan  program perubahan akan dilaksanakan.
2. Kepala sekolah sebagai pemprakarsa
Kepala sekolah memainkan peran yang besar dalam program perbaikan. Mereka dapat membantu keberhasilan pelaksanaan perubahan karena mereka tahu iklim/suasana organisasi sekolah dan mereka mendukung orang terlibat dalam perubahan. Berman dan Mc. Laughin menunjukan bahwa pentingnya kepala sekolah dalam Studi Rand.    Kontribusi utama Kepala sekolah  untuk implementasi, menurut para peneliti rand bukanlah bagaimana melakukan nasihat, yang biasanya ditawarkan oleh direktur proyek atau konsultan, tetapi dalam memberikan dukungan moral kepada staf dan dalam menciptakan iklim organisasi yang memberikan kekuasaan proyek.


  1. Koordinator fasilitator
Fasilitator dari dalam organisasi sekolah berkonsentrasi pada proses pengembangan kurikulum, pelaksanaan dan evaluasi. Guru dan kepala sekolah juga dapat memainkan peran ini. Kepala sekolah dapat menjadi fasilitator ketika ia bekerja untuk membangun unit organisasi produktif yang memungkinkan untuk perencanaan koperatif dan kelompok musyawarah. Prinsip seorang fasilitator ketika ia menciptakan dan menumbuhkan iklim yang profesional serta pertumbuhan dan keterampilan kepemimpinan antara staf. Kepala sekolah memainkan peran ini ketika staf berkesempatan untuk menerima dan melaksanakan berbagai tanggung jawab kepemimpinan. Jika guru secara aktif terlibat dalam pengembangan kurikulum, kemudian kepala sekolah harus membebaskan mereka dari beberapa  tugas mereka sehingga mereka dapat menyelesaikan tugas-tugas baru mereka.
  1. Pengawas
Proses pengembangan kurikulum dan pelaksanaan memerlukan pengawasan. Pengawas harus memantau apa yang terjadi dan menentukan apakah tindakan ini sesuai, terutama di tingkat pelaksanaan. Selain itu selama tahap implementasi kurikulum, tidak hanya cara mengajar yang diawasi tetapi juga konten yang sedang dibahas.
 Pengawas  menyediakan arah dan bimbingan dan memastikan guru memiliki keterampilan untuk melaksanakan perubahan. Mereka bertanggung jawab mengawasi pengembangan kurikulum dan pelaksanaan atau mengarahkan karya orang lain. Membuat keputusan tertentu, khususnya melibatkan tindakan dan berinteraksi dengan orang lain yang terlibat dalam upaya perubahan. Supervisor menyadari bahwa mereka harus mengubah taktik mereka tergantung pada situasi dan para peserta. Mereka perlu menjadwalkan lebih banyak kesempatan untuk bimbingan dan lebih dalam pelayanan pelatihan bagi anggota staf untuk memberikan kurikulum baru. Roland Doll menunjukkan bahwa supervisor memiliki 3 tugas utama:
1. membantu keseluruhan fakultas dalam menentukan tujuan pendidikan dan pemantauan tindakan profesional untuk melihat bahwa tujuan ini ditaati
2.  instruksional kepemimpinan demokratis dan
3.  menjaga saluran komunikasi dalam organisasi sekolah dan antara sekolah dan masyarakat saling terbuka.
Supervisor yang dapat melaksanakan tanggung jawab mereka dalam berbagai cara. Beberapa cara yang populer adalah kelas pengamatan supervisor, guru konferensi kelompok kerja dan pengajaran demonstrasi. Dalam demonstrasi mengajar supervisor bertanggung jawab untuk melatihan kegiatan yang akan lebih efektif dari kurikulum. Sering supervisor terlibat dalam demonstrasi yang mengajar untuk membuat cara kurikulum lebih dikenal untuk semua guru.

F. Kesimpulan
            Orang yang mengerti bahwa implementasi lebih dari bahan baru yang dibagikan/ kurikulum baru untuk berhasil dilaksanakan, maka mereka perlu untuk memvisualisasikan tujuan program, aturan orang dalam sistem dan orang-orang yang berinteraksi dengan program baru. Manusia memerlukan rencana yang fleksibel , menyesuaikan rencana dengan pelaksanaan. Perubahan adalah sebuah proses yang membutuhkan waktu.
Walaupun orang sudah berusaha menciptakan kurikulum baru dan menerimanya, namun ada juga kurikulum baru yang gagal kepentingan dan komplektisitas tahap pelaksanaan dan pengembangan kurikulum tidaka dipahami. Pelaksanaan /implementasi kurikulum sangat penting , implementasi adalah proses perubahan yang direncanakan. Karena itu kita harus memahami hubungan perubahan dengan perencanaan dan dengan interaksi individu, kelompok dan sistem.



DAFTAR PUSTAKA



Ornstein, Allan c. and Hunkins, Francis P. Curriculum Foundation, Principles, and Issues. New Jersey : Prentice Hall.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar